Kabarsiak.id– Kepedulian terhadap lingkungan terus didorong melalui berbagai inovasi berbasis teknologi tepat guna. Salah satunya dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di lingkungan Pesantren Al-Ma’arif Siak Kecil.
Kegiatan bertajuk “Optimalisasi Limbah Organik Menjadi Ecoenzyme sebagai Bahan Pembuatan Deterjen Ramah Lingkungan dalam Upaya Penguatan Kemandirian Santri di Lingkungan Pesantren Al-Ma’arif” tersebut mengajak para santri untuk mengubah limbah organik dapur menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai produk usaha pesantren.
Limbah Kulit Buah Diubah Menjadi Produk Bernilai Guna
Pesantren Al-Ma’arif memiliki sekitar 155 santri dengan aktivitas asrama dan dapur terpusat. Berdasarkan observasi awal tim, aktivitas tersebut menghasilkan limbah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran yang diperkirakan mencapai 3 – 5 kg/hari. Di sisi lain, kebutuhan deterjen untuk mencuci pakaian santri, perlengkapan asrama, serta fasilitas umum juga cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya menghadirkan alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus berpotensi menekan biaya operasional pesantren.

Melalui kegiatan tersebut, santri diperkenalkan dengan konsep circular economy dan green chemistry, dengan memanfaatkan limbah organik dapur sebagai bahan baku ecoenzyme. Prosesnya dimulai dari pemilahan limbah organik, formulasi bahan, fermentasi, hingga pemanenan ecoenzyme.Selanjutnya, ecoenzyme dimanfaatkan sebagai bahan aktif pendukung dalam formulasi deterjen cair dengan Methyl Ester Sulfonate (MES) sebagai surfaktan utama. MES merupakan surfaktan anionik berbasis minyak nabati yang memiliki daya detergensi dan biodegradabilitas yang baik.
Dorong Kemandirian dan Budaya Peduli Lingkungan
Program PkM ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tim juga merancang keberlanjutan program melalui pembentukan Kelompok Santri Produktif yang diharapkan menjadi penggerak kegiatan produksi ecoenzyme dan deterjen secara mandiri. Kelompok tersebut nantinya diarahkan untuk melanjutkan produksi, melakukan pencatatan administrasi, serta mengembangkan pemasaran internal.

Tim pengusul juga menyiapkan modul pelatihan, SOP produksi, formulasi standar, serta peralatan sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh mitra secara berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, Polsri berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan teknologi yang aplikatif bagi masyarakat. Pemanfaatan limbah organik menjadi ecoenzyme sekaligus pengembangan deterjen ramah lingkungan diharapkan dapat memberikan manfaat dari sisi lingkungan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.(ak)